Sebuah Catatan Kecil Soal Hujan

Kamu tahu kenapa kita mengenang banyak hal saat hujan turun? karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya – Tere Liye.

Hujan. Terdapat banyak yang membencinya adapula yang begitu meyukainya serta ada yang tidak memperdulikannya. Memanglah, kadang-kadang hujan mengakibatkan bencana tetapi seringkali untuk segelintir orang hujan yaitu semuanya, mengenai anugerah, mesin saat maupun penenang jiwa.

Ya, hujan tidak terus-terusan mengenai basah, tetapi terdapat banyak masa lalu yang turut turun dengannya baik luka maupun bahagia. Kenyataannya hujan adalah siklus keseimbangan alam tiap-tiap detik ada 16 juta ton air yang menguap serta jadi bahan hujan.

Jumlah yang sama juga akan kembali pada bumi berbentuk hujan serta hujan jatuh ke bumi dengan kecepatan rata-rata 8-10 km/jam, tetapi hujan bukan sekedar mengenai keseimbangan alam. Untuk pencinta hujan, hujan lebih dari rintikan air yang jatuh kebumi yang cuma buat basah.

Pluviophile

Pluviophile yaitu sebutan untuk mereka pengagum hujan, beberapa manusia yang rasakan damai serta tenang waktu mendung mulai menegur langit. Sukai berlama memandang keluar kaca jendela, cuma untuk lihat rintikannya jatuh membasahi bumi dengan potongan masa lalu yang dibawanya. Demikianlah pluviophile, terasa damai saat guyuran hujan mulai menempa, tidak ada hiruk pikuk dunia tidak ada bising kendaraan cukup derasnya hujan yang temani ketika itu. Untuk pluviophile hujan itu lebih dari sebatas hujan, hujan turun membawa masa lalu dengannya dan dengan selekasnya menghapus dengan rintikannya. Pencinta hujan, pemuja hujan atau apa yang mereka katakan. Some people feel the rain other juicet get wet, Bob Marley.

Petrichore

Petrichore yaitu satu diantara bau alami yang tercium waktu hujan turun membasahi tanah yang kering. Pada th. 1964, saintis Australia, Isabel Joy Bear serta R. G. Thomas, lakukan riset tentang aroma hujan serta mempublikasikannnya di jurnal Nature, “Nature of Agrillaceous Odor. ” Isabel serta Thomas membuat arti petrichor (Yunani, petra : batu, ichor : darah beberapa dewa) untuk menerangkan fenomena itu. Hujan senantiasa identik dengan masa lalu, membawa masa lalu dengannya serta menaikkan sekali lagi lewat aromanya. Hal yang dinanti sesudah hujan, memberi kesan tenang serta damai saat itu juga. Petrichore, the smell after the rain.

Secangkir coklat panas, selimut serta alunan rintik hujan telah cukup untuk nikmati syahdunya hujan. Hujan seolah jadi mesin saat yang meresonansikan ingatan kita mengenai waktu dulu serta menumbuhkan rindu pada beberapa orang paling dekat kita. Ingatan kita seolah dipaksa untuk kembali pada waktu dulu yang mungkin saja sangat pahit.

Namun, demikianlah hujan dia miliki langkah sendiri mengontrol ingatan kita, tetapi menyadarkan kita mengenai begitu perlunya satu waktu dulu sebagai pengalaman bernilai untuk kita mengambil langkah dihari ini serta besok. Setiap tetesnya seolah hujan membawa butiran-butiran masa lalu yang terkadang kuta malas untuk mengingatnya. Mengenai rindu yang tidak ada habisnya atau mengenai satu narasi yang menaikkan merdu rintikannya.